Sunday, May 19, 2019
Thursday, April 25, 2019
Sunday, March 17, 2019
Monday, February 11, 2019
Agar Mendapat Bagian Kamar di Surga (RINGKASAN KHUTBAH JUM'AT)
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ
فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ
مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُاَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى
آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.يَاأَيّهَا
الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah
Segala puji kita
panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan
pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur panjang.
Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam.
Shalawat dan
salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar
kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat, para
tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan contoh yang baik pada kita.
Mendapat Kamar Di
Surga Allah
Sesungguhnya Allah
menyediakan kamar-kamar yang sangat istimewa di dalam surga untuk orang-orang
yang beriman dan senantiasa beramal shalih
Allah ta'ala
berfirman:
وَالَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ نِعْمَ أَجْرُ
الْعَامِلِينَ
Dan orang-orang yang
beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada
tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang
yang berbuat kebajikan,
(Surat Al-Ankabut,
Ayat 58)
Yang menjadi
pertanyaan bagi kita, amal shalih yang seperti apakah yang harus kita amalkan
agar Allah menyediakan kamar yang istimewa untuk kita di surga?
Dari ‘Ali, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي
الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا
“Sesungguhnya surga
itu memiliki kamar. Sisi luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga sisi
dalamnya dapat dilihat dari luar."
:فقامَ أعرابيٌّ فقالَ:
لمن هيَ يا رسولَ اللَّهِ؟ فقال
Kemudian seseorang
berkata, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?”
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab,
لِمَنْ
أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ، وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى
بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Untuk orang yang
selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa, dan suka
melakukan shalat karena Allah di waktu malam ketika manusia tidur terlelap.”
(HR. Tirmidzi no. 1984, dinilai hasan oleh Al-Albani.)
Amal-amal shalih yang
hendak kita amalkan adalah:
1. Bertutur kata yang
baik
Amalan yang pertama
agar Allah menyediakan surga bagi kita yaitu bertutur kata yang baik, tidak ada
perkataan yang keluar dari mulutnya kecuali yang baik, tidak ada kalimat yang
terucap dari lisannya kecuali dzikrullah, orang yang mendengar ucapannya merasa
tenang, orang yang berbicara dengannya merasa nyaman, tetangganya, temannya,
saudaranya siapapun yang berbicara dengannya merasa bahagia tidak pernah
terganggu.
Sebagaimana yang telah
diperintahkan oleh Allah ta'ala kepada kita:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Wahai orang-orang yang
beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,
(Surat Al-Ahzab, Ayat
70)
Begitu pula yang
disabdakan oleh Rasulullah:
Dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau
hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
2. Memberi makan
Sebagai seorang muslim
hendaklah kita memperhatikan saudara-saudara kita yang membutuhkan, kita
perhatikan saudara kita dari fakir miskin yang membutuhkan makan kita beri
mereka makan denga seperti itu kita in syaa Allah termasuk orang yang akan
mendapatkan kamar nanti di surga Allah bahkan Rasulullah juga pernah bersabda
bahwa salah satu keistimewaan orang yang memberi makan adalah Allah akan menjadikan
dia sebagai pewaris surga, Rasulullah bersabda:
أطعِمُوا الطعامَ
وأفشوا السلامَ تُورَثوا الجنان
"Berilah makan
dan sebarkan salam maka engkau akan menjadi pewaris surga"
3. Membiasakan puasa
Di antara amalan yang
hendaknya kita amalkan agar kita mendapatkan kamar di surga Allah adalah
membiasakan berpuasa, baik itu puasa-puasa sunnah terlebih lagi puasa wajib,
puasa di bulan ramadhan.
Amalan membiasakan
puasa aadalah amalan yang sangat luar biasa pahalanya di sisi Allah, selain
Allah sediakan kamar di surga baginya Allah juga telah mengampuni dosa-dosanya
yang telah lalu.
Rasulullah bersabda:
Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ
رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang
berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka
dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Qiyamullail
Di antara amal shalih
yang dapat menjadikan kita sebagai penghuni kamar nanti di surga Allah adalah
senantiasa menghidupkan malam kita, di saat orang lain tertidur pulas kita
bangun bermunajat kepada Allah, berdzikir memohon ampunan dan meminta apa yang
kita inginkan kepada Allah, melaksanakan sholat malam, kita sampaikan
permohonan kita segala keluh kesah kita hanya kepada Allah ta'ala.
Allah ta'ala
berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ
فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا
Dan pada sebagian dari
malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang
panjang di malam hari.
(Surat Al-Insan, Ayat
26)
Saturday, February 2, 2019
Ringkasan Hasil Seminar Sehari (Dauroh Fiqih Dakwah) Bersama Pengurus DKM PT. Musashi Auto Parts Indonesia
Defini
Dakwah
Dakwah dapat dipahami melalui dua
makna,yaitu makna secara Bahasa dan makna secara istilah.
Dakwah secara Bahasa berasal dari kata دع
yang bermakna sebuah permintaan untuk melakukan suatu perkara. Seperti halnya
mengajak seseorang untuk melaksanakan perintah shalat, puasa, zakat, dan
lain-lainnya yang bermakna sebagai
bentuk permintaan agar orang tersebut mengerjakan amalan tersebut.
Hal ini
sebagaimana yang telah disebutkan didalam Al-Qur’an tentang dakwah yang
disampaikan oleh Nabi Musa -Alaihissalam- kepada keluarga Fir’aun. Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
لَا
جَرَمَ اَنَّمَا تَدۡعُوۡنَنِیۡۤ اِلَیۡہِ لَیۡسَ لَہٗ دَعۡوَۃٌ فِی الدُّنۡیَا وَ
لَا فِی الۡاٰخِرَۃِ وَ اَنَّ مَرَدَّنَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ اَنَّ الۡمُسۡرِفِیۡنَ
ہُمۡ اَصۡحٰبُ النَّارِ
“Sudah
pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat
memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya
kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas,
mereka itulah penghuni neraka.” (QS. Ghafir:43)
Dakwah
secara istilah memiliki berbagai macam istilah yang berbeda-beda. Maka secara
garis besarnya istilah dakwah itu yaitu mengajak manusia menuju keimanan kepada
Allah Subhanahu Wata’ala, serta menaati setiap perkara yang datang dari
Rasulullah, dengan tetap berpegang teguh kepada tali agama yang benar dan
beramal sesuai dengan apa yang datang darinya.
Sehingga
dari istilah tersebut dapatlah kita pahami bahwa dakwah islam ini merupakan
sebuah perkara yang mulia dan agung karena tujuannnya yang sangat menjunjung
tinggi hak-hak kemanusiaan. Serta Dari dakwah ini pula telah melahirkan
berbagai pengetahuan penting mengenai akhlak dan adab seorang dengan
masyarakatnya, dengan menjadikan islam sebagai landasan yang sempurna serta
berjalan di atas syariat-syariatNya.
Dakwah juga
merupakan sebuah bentuk pemberitahuan maupun peringatan bagi seluruh umat
manusia, karena di dalam dakwah ada hal yang menyangkut tentang ganjaran bagi
yang melakukannya dan hukuman bagi yang meninggalkannya. Maka yang menjadi
salah satu objek dalam dakwah ini yaitu mengajak kepada yang ma’ruf serta
mencegah dari yang munkar.
Allah
Subhanahu Wata’ala berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ
أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. Ali Imran : 104)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. Ali Imran : 104)
Tauhid Adalah Inti Dakwah Seluruh Nabi Dan Rasul
Tauhid
secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan
huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti
dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita
jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul,
39).
Secara
istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai
satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh
Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa
banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat,
para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun
seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
Allah
Ta’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dan
keselamatan seseorang di akhirat kelak ditentukan oleh tauhid. Orang yang mati
dalam keadaan bertauhid, maka ia akan selamat di akhirat walaupun membawa dosa
yang banyak. Adapun orang yang mati dalam keadaan musyrik, maka ia tidak
akan selamat dan merugi selamanya
Allah
Ta’ala berfirman :
فَمَنْ كَانَ
يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ
أَحَدًا
“Maka barangsiapa yang mengharapkan
perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia beramal shalih dan tidak
mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya” (QS.
Al Kahfi: 110).
Allah Ta’ala berfirman :
Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. An Nisa’:
48).
Allah Ta’ala berfirman :
Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا
فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl: 36).
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut’” (QS. An-Nahl: 36).
Penutup
Sudah seharusnya bagi setiap muslim mengetahui akan
pentingnya menyebarkan dakwah islam ini, karena Allah Subahanahu Wata’ala telah
memuliakan dakwah ini serta bagi mereka yang menyampaikannya memiliki kedudukan
yang tinggi di sisi-Nya.
Dakwah ini juga merupakan jalan yang telah
ditempuh oleh para Nabi dan Rasul serta para ulama dan orang=orang saleh
terdahulu. Dakwah ini pada hakikatnya mengembalikan manusia kepada fitrah asalnya,
yaitu untuk beriman serta taat kepada Allah, dengan cara berpegang teguh pada
tali agama Islam serta tetap istiqomah dalam menjalankan setiap syariat-syariat
dari Allah Azza wa Jalla.
@Cikarang,
25 Januari 2019
Peserta
seminar : Toto Wahyudi & Dede Muslim
Tuesday, January 22, 2019
Dunia Itu Hanya 3 Hari (RINGKASAN KHUTBAH JUM'AT)
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُاَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا
إِلَى يَوْمِ الدّيْن.يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا
Ma’asyirol
muslimin rahimani wa rahimakumullah
Segala puji
kita panjatkan pada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah
anugerahkan pada kita sekalian. Allah masih memberikan kita nikmat sehat, umur
panjang. Juga lebih dari itu, kita masih diberikan nikmat iman dan Islam.
Shalawat dan
salam semoga tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita, Nabi besar
kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat, para
tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan contoh yang baik pada kita.
قا ل الحسن البسر
"اﻟﺪﻧﻴﺎ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ:
ﺃﻣّﺎ ﺃﻣﺲ ﻓﻘﺪ ﺫﻫﺐَ ﺑﻤﺎ ﻓﻴﻪ،
ﻭﺃﻣّﺎ ﻏﺪاً ﻓﻠﻌﻠﻚ ﺃﻥ ﻻ ﺗُﺪﺭﻛﻪ،
ﻓﺎﻟﻴﻮﻡ ﻟﻚ ﻓﺎﻋﻤﻞْ ﻓﻴﻪ."
[الزهد للبيهقي ١٩٦/١]
Hasan Al Bashri rahimahullah berkata : “Dunia itu hanya
tiga hari. Kemarin, yang tak kan terulang. Besok, yang belum tentu menemuinya.
Hari ini, tempat menabung amalan kita”
Mari kita coba maknai nasehat dari Hasan Al Bashri
rahimahullah diatas…
Kemarin, yang tak kan terulang. Begitu banyak rangkaian kejadian dan
aktifitas yang kita lalui di hari kemarin. Ada yang manis, tetapi tak
sedikit yang pahit. Ada yang meninggalkan kesan bahagia, tetapi tak jarang
yang berujung sedih. Namun setelah semuanya terjadi, maka akan berlalu.
Sebenarnya kita hanya perlu untuk mengambil hikmah dan mensyukuri dari apa
yang telah kita alami dan lakukan, apapun bentuknya. Karena bisa jadi yang
pahit dan menyedihkan, mampu untuk menjadikan pribadi kita lebih taat dan kuat.
Sebaliknya, yang manis dan bahagia, justru dapat menjerumuskan kita kepada
kelalaian dan kehinaan. Maka mohonlah kepada Allah, agar kita diberikan hati
yang bening dan hidup, agar mampu mengambil hikmah dan pelajaran yang
bermanfaat. Ya Allah, lunakkanlah hati kami dengan mengingat-Mu dan
bersyukur kepada-Mu…
وَعَسَىٰٓ
أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ
يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak
mengetahui.”
(QS Al Baqarah : 216)
Besok, yang belum tentu kita menemuinya. Adakah yang bisa menjamin kita
masih bisa berjumpa dengan hari besok? Tidak ada seorang pun, melainkan hanya
Allah Ta’alaa semata yang Maha Mengetahui. Nasehat ini menghadapkan diri kita
kepada satu hal penting; lakukanlah yang Allah dan Rasul-Nya sukai,
sebaik-baiknya, dan saat ini juga. Karena kita tidak pernah tau, apakah kita
masih bisa menemui hari besok untuk melakukannya, ataukah itulah yang terakhir
bisa kita lakukan.
Hari ini, tempat menabung amalan kita. Hari yang sedang kita jalani saat
ini, adalah kesempatan emas untuk mengisinya dengan ketaatan dalam bentuk
amal ibadah. pastikan yang wajib tak terlewat, dan perbanyaklah mengerjakan
yang sunnah. Besar kecilnya ibadah, tergantung pada niat dalam hati kita. Kita
tidak pernah tau, amalan mana yang nanti akan membawa kita masuk ke dalam
surga. Tugas kita hanya fokus beribadah serta memastikan lurusnya niat hanya
pada Allah Ta’alaa. Jangan sia – siakan waktu kita dengan hal – hal yang tidak
membawa manfaat, terlebih bagi akhirat kita kelak. Apalagi saat tubuh masih
diberikan nikmat sehat, optimalkan untuk beribadah hanya pada-Nya. Pada
akhirnya, setelah kemarin tak dapat diulang, besok tak tentu berjumpa, maka
manfaatkanlah sebaik mungkin hari ini.
”Ada
dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu
senggang”. (HR.
Bukhari, dari Ibnu ‘Abbas)
Berbekalah dengan ketakwaan karena engkau tidak tahu
Apabila malam telah gelap apakah engkau akan hidup esok hari
Betapa banyak orang yang sehat meninggal tanpa didahului
sakit
Dan betapa banyak orang yang sakit ternyata hidup lama
Betapa banyak seorang pemuda sore dan pagi harinya dalam
kondisi aman
Padahal kain kafannya telah digunting dan dia tidak
mengetahuinya
Ibnul
Qayyim rahimahullah berkata: ”Keuntungan terbesar di
dunia adalah engkau menyibukkan dirimu setiap saat dengan sesuatu yang paling
utama dan bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Bagaimana dikatakan berakal
seseorang yang menjual Surga dan kenikmatan di dalamnya dengan syahwat
(kesenangan dunia) yang hanya sesaat.”
Beliau juga
berkata: ”Menyia-nyiakan waktu lebih lebih berbahaya dari pada
kematian, karena menyia-nyiakan waktu memutuskanmu dari Allah dan akhirat,
sedangkan kematian memtuskanmu dari dunia dan penghuninya.”
Wallahu a’lam bishowab. Barakallahu fiikum…
Subscribe to:
Posts (Atom)






